Monday, November 10, 2008

Konsistensi




KONSITENSI



Malam itu kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu yang tersambung dengan ruang keluarga. Kami duduk sejenak setelah anak – anak pulang berlatih bermain tenis. Di salah satu channel tv lokal menyiarkan tenis secara live semifinal ATP Masters Series Madrid. Kedua pemain itu masih belia tetapi telah menunjukkan prestasi gemilang selama gelaran musim ini. Kualitas permainan keduanya sangat mengagumkan. Itulah rafael Nadal dari Spanyol dan Gilles Simon dari Prancis. Nadal telah memupus Federer di puncak ATP dan Simon telah menumbangkan pemain nomor 1,2, dan 3 dunia di musim ini.

Aktifitas sehari – hari keluargaku memang tidak jauh – jauh dari tenis. Kalo tidak practice anak- anak suka main virtual tenis game di PSP. Ketika nongkrong di depan computer kami suka membuka- buka website tennis related atau melihat cuplikan tips bermain tenis di youtube. Apalagi kalau ada gelaran WTA / ATP di kota ini sudah pasti kami sekeluarga tidak pernah absen datang ke Khalifah Tennis Complex. Ironis memang anak – anak lebih tahu Federer, Nadal, Sharapova, Ivanovic daripada presiden, mentri dan pejabat di Indonesia. Di mata pelajaran matematika juga demikian, angka pertama bagi mereka adalah 15, 30, 40, Deuce, Adavantage dsb. Tentu saja kalimat yang terakhir hanyalah guyonan semata.

Di layar televisi permainan kedua pemain itu sangat mengesankan. Pada set pertama Simon menang dan kini set kedua mendapat kesempatan serving for the match. Nadal yang lebih berotot memaksa kedudukan 5-5 yang akhirnya memenangi set kedua itu dengan tiebreak. Set ketigapun dimainkan apik dan kedudukan 6 – 6. Lagi – lagi tiebreak atau rally point harus dimainkan. Tiebreak ini mencari siapa yang mendapat point 7 lebih dulu. Kalau kedudukan 6-6 maka pemain dengan 2 point lebih unggul akan keluar sebagai pemenang. Kedua pemain saling mendapatkan match point. Mereka saling berkejaran merebut tiket ke final. Tiket di mana Andy Murray sudah menunggu setelah menumbangkan Federer. Kami sekeluarga dibuat dag dig dug sepanjang pertandingan. Tak jarang istri saya terbawa histeria jika ada bola out atau nyangkut di net. Akhirnya Simon memenangi pertandingan klasik maju ke final setelah berpeluh basah lebih dari 3 jam skor 8-6 pada tiebreak pamungkas. Denagn demikian pupuslah harapan tuan rumah dan punah pula harapan publik menyaksikan final ideal antara Federer dan Nadal.

Pertandingan akbarpun usai dan tiba – tiba anak saya Gilang nyeletuk. “Wah ngapain capek – capek main dari tadi?”, “Kenapa tidak langsung tiebreak saja?”. Saya memandangnya tersenyum dan berpaling ke arahnya sambil berkata; “itulah konsistensi nak!”.

Jika kita melihat secara sederhana permainan olahraga itu aneh. Sebuah tim sepakbola ketika sudah bermain 45 menit x 2 ditambah lagi dengan 15 menit x 2 jika skornya imbang maka pertandingan akan ditentukan dengan adu pinalti. Kenapa tidak adu pinalti dari awal saja?. Begitu juga dengan permainan bulutangkis, bola voli, tenis meja, tenis dll. Pendek kata untuk memenangkan permainan - permainan ini sebenarnya pemain hanya membutuhkan unggul 2 point dari lawannya. Pertanyaannya, kenapa dibutuhkan waktu berjam – jam untuk menyelesaikan pertandingan, kenapa tidak sedari awal pemain / tim yang unggul dua angka dinyatakan sebagai pemenang?. Jawaban yang sederhana adalah kalau pertandingan secepat itu miskin penonton dan tidak menguntungkan dari segi bisnis.

Lebih aneh lagi bagi orang India yang cricket carzy country. Setelah berjam - jam nonton dan berhari - hari pertandingan cricket bisa berakhir dengan draw. Itulah dinamika dunia olahraga. meski demikian dunia itu memberikan banyak pelajaran hikah kehidupan dalam filosofinya. salah satunya adalah konsistensi.

Konsistensi memegang peranan penting dalam kehidupan nyata. Seorang pemain atau tim akan diuji konsistensinya selama pertandingan berlangsung. Seorang pemain tidak akan dinyatakan sebagai pemenang hanya dengan satu smash dan satu bola lawan out. Begitu juga permainan tidak akan berhenti hanya kita tertinggal angka dan melakukan kesalahan. Sang pemenang haruslah melewati ujian dan konsistensinya pada pukulan forehand, backhand, dropshot, smash, volley, serve, return serve, dsb.

Pemain juga harus diuji bagaimana dia bias bertahan dalam serangan. Pemain harus jeli menentukan kapan saat yang tepat untuk menyerang dan lapan harus bertahan. Pemain dan tim bersama – sama menutupi titik lemah dan mengunakan keunggulannya sebagai senjata pamungkas. Lawan boleh saja mensmash tetapi sang juara tahu bagaimana mengembalikan atau memperkecil kemungkinan lawan melakukan smash. Dalam bahasa yang sederhana pemenang adalah pemain yang multikompleks kapasitas dan konsistensinya. Pemain yang winnernya lebih banyak dari unforce errornya.

Kita ibaratkan dunia ini seperti gelanggang olahraga dan masa hidup kita adalah masa pertandingan berlangsung. Kita dalah pemain - pemain di gelanggang olahraga. Untuk memenangkan pertandingan (baca: dunia) kita harus bermental juara. Kita sering mendengar dan membaca kisah orang – orang sukses karena mereka itu konsisten dalam hidupnya. Konsisten untuk terus belajar, berlatih dan berkarya, konsisten untuk berbuat kebaikan. Mereka akan bersabar jika mendapat cobaan (baca:perlawanan) dan menjadikannya sebagai hikmah kehidupan. merka tahu bagaimana cara menaklukkan lawan. Tidak segan – segan meraka mensyukuri segala ujian. Karena ujian adalah proses kematangan jiwa. Mereka tahu kelebihan yang ada pada dirinya sehingga layak untuk dijual dan meraih kemenangan. Meraka tidak minder pada kekurangannya tetapi tahu menutupi dan akhirnya kelemahan itu bukan menjadi beban.

Dalam dunia marketing atau bisnis konsistensi akan mendatangkan kepercayaan dari klien. Orang – orang atau perusahaan yang konsisten akan dianggap jujur. Di saat kejujuran langkah maka konsistensilah yang dicari. Produk – produk barang maupun jasa yang konsisten akan mutu akan selalu dipercaya dan dicari public. Perusahaan atau produk jasa yang tidak konsisten akan kehilangan kostumer.

Sering pula kita jumpai orang-orang yang tidak konsisten akan menemui kekalahan. Partai politik banyak ditinggalkan massanya karena dianggap tidak konsisten menyuarakan aspirasi rakyat. Seorang pemimpin kehilangan legitimasi karena dia tidak konsisten dengan janji waktu kampanyenya. Karena tidak ada konsistensi pelaku politik maka sungguh ironis pemandangan di tanah air. Pilkada dan pil - pil yang lain banyak dimenangkan oleh golput. Sementara biaya pil-pil itu milyaran rupiah menjadi beban rakyat. Angka yang fantastik untuk mencerdaskan anak bangsa.

Seperti juga dalam olahraga terkadang kita mendapat poin dengan mudah. Ada pula poin yand dengan susah mendapatkannya. Terkadang kita ulet menghadang perlawanan lawan terkadang kita loyo kemudian bangkit lagi. Semua ada korelasinya dalam kehidupan sehari - hari. Rejeki kadang - kadang megitumudah didapat adapula dengan mati - matian kecil pula dapatnya. Golongan terakhir ini ibarat golongan P7. Pergi pagi - pagi pulang petang petang penghasilan pas - pasan. Ada pula yang tidur menghasilkan uang. Golongan ini jangan dikonotasikan negatif.

Seperti layaknya pertandingan yang diakhiri dengan adu pinalti atau tiebreak demikian juga dalam hidup ini. Terkadang kita harus menentukan satu di antara pilihan yang sulit. Jika musyawarah sudah menemui kebuntuhan atau deadlock maka voting itulah yang ditempuh oleh para anggota DPR. Jika sebuah perselisihan dan persengketaan tak berujung damai maka pengadilanlah yang jadi penentu. Adu pinalti, tiebreak, voting, pengadilan adalah jalan yang dibolehkan meski banyak yang berusaha untuk menghindari. Demikian juga kita seyogyanya memenangkan pertandingan sedini mungkin untuk menghindari buang-buang energy.

Ajaran agama – agama juga mengajarkan konsistensi. Bukankah beramal baik sedikit tetapi terus menerus itu lebih baik daripada banyak dan hanya sekali. Bukankah perusahaan akan meminta konsistensi kita sewaktu membuat CV, waktu interview,dsb. Sadar atau tidak mau atau tidak masing - masing kita dimintai konsistensi dalam kehidupan ini.

Manusia tidak seharusnya bangga dan merasa baik karena pernah sekali berbuat amal kebajikan. Tidak pula manuasia merasa gagal dan putus asa hanya karena pernah berbuat salah. Sebelum wasit meniupkan peluit menandai akhir pertandingan(malaikat mencabut nyawa) masih ada waktu buat untuk merapatkan barisan pertahanan, menyusun strategi dan bersama-sama bekerja keras memasukkan bola ke gawang dan meraih kemenangan. Dan kita tahu konsistensilah yang memenangkan babak kehidupan.

Di lapangan tenis sang pelatih berteriak konsisten…… konsisten .. dan konsisten dalam memukul bola kepada anak didiknya. Diapun berkata "jika kelak engkau pingin sukses seperti Nadal dan Simon maka konsistenlah dalam berlatih . ……….berlatih…….. dan ..........berlatih.

Saya sendiri termasuk orang yang belajar berkonsistensi, bagaimana dengan anda?



Doha,Oct 2008

No comments: