How To: Hit a Closed-Stance Forehand
These days, almost everyone hits ground strokes with an open stance, from Roger Federer to the 7-year-old beginner. There’s room, however, for an old-school weapon in your arsenal: the closed-stance forehand. If you have time to turn sideways and step into the court, especially on a short ball, you should do it. You’ll hit a powerful, more accurate shot and keep your momentum moving forward, which will give you a chance to approach the net and finish off the point.
Wednesday, March 11, 2009
Tuesday, March 10, 2009
La Grisso
Saya agak lama tidak menulis.........
Lagi BT...........
Tidak ada ide.............
Tidak ada energy..................
Tidak ada asa.........................
Yang muncul adalah ide membuat La Grisso...
Semacam restaurant...........
Dengan menu tradisional............
tapi mesti nunggu La Grisso kecil lahir dulu............
Lagi BT...........
Tidak ada ide.............
Tidak ada energy..................
Tidak ada asa.........................
Yang muncul adalah ide membuat La Grisso...
Semacam restaurant...........
Dengan menu tradisional............
tapi mesti nunggu La Grisso kecil lahir dulu............
Tuhan Maha Mendengar
Tuhan maha mendengar….
Oleh Linda Kompasiana- 10 Maret 2009 -
Jangan main-main meminta kepada Tuhan. Yang dikabulkan, banyak. Barangkali, yang tidak ingin diinginkan pun , bisa jadi diberikan sebaliknya. Contoh, seorang wanita selalu berkata dalam hatinya, “Amit-amit saya berjodoh dengan lelaki yang bicaranya medok Jawa, hobi memakai sepatu berwarna putih, dan berkumis. Jangan sampai terjadi”. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Wanita itu , sampai kini sudah memiliki tiga anak, dengan suami yang ‘ketiga unsur itu’ ada semua. Sang suami berkumis, berasal dari Solo yang aksen Jawanya masih kental, dan .. hobi memakai sepatu putih sampai sekarang sudah menjadi kakek-kakek! Nah lho!
Di pinggir pantai Kuta, seorang wanita muda menangis. Air matanya tak henti mengikuti pecahnya ombak yang berulang-ulang. Lalu ia bergumam sendiri, “Tuhan , aku tahu betul aku cinta sekali kepada orang itu. Meski agamanya berbeda dengan agamaku, dan aku menyadari hal ini tidak boleh terjadi…, tapi aku tak kuasa. Kalau memang dia jodohku, lancarkanlah. Kalau tidak, kasih dong Tuhan jalan yang baik. Aku harus bagaimana?” Dua hari setelah itu, wanita muda ini kembali ke Jakarta. Malamnya, rekan kerja ibunya datang ke rumah membawa adiknya, seorang pemuda keren. Sebulan kemudian si pemuda langsung melamarnya…, dan beberapa bulan kemudian mereka menikah. Selamat tinggal pemuda yang lain agama itu…..
Ayah saya, seorang pekerja keras, bersahaja, lurus, dan anti korupsi meski kadang kesempatan sangat menghadangnya di depan mata. Kalau di lingkungan pertemanannya ada yang sakit keras, ia selalu nyeletuk kepada saya, ” Ayah minta sama Tuhan , nggak mau mati pakai sakit. Betul-betul nggak mau. Ayah nggak mau merepotkan keluarga dan menguras biaya. Enak ya orang yang meninggal hari Jumat, jadi bisa disembahyangkan di mesjid sama-sama orang Jumatan”. Ketika usianya menjelang 64 tahun , usai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan bermaaf-maafan di hari Idul Fitri, wafatlah dia. Dua jam sebelumnya ayah masih memangku anak saya yang masih balita. Sesudah itu ayah pergi ke tempat pijat langganannya yang dikelola suami istri di kawasan Kebayoran. Dia bilang sedang kurang enak badan. Setelah usai pijat, ia menyetir mobilnya sendiri ke Rumah Sakit Birah di Kebayoran Baru. Minta diperiksa oleh dokter, sembari menyerahkan kartu namanya berikut nomor terlefon rumah kepada suster. Meurut suster, ayah saya mengatakan begini, “Suster, kalau ada apa-apa, tolong saja telefon ke rumah saya, hubungi anak-anak saya..” Setelah itu, bablas…., wafatlah ia dengan sebegitu tenang, ringkas, serta sangat tidak merepotkan orang. Bayangkan , ia mengantarkan dirinya sendiri ke Rumah Sakit untuk menghembuskan nafasnya…. Betul-betul keinginannya dijabah Allah. Meninggal tanpa menderita kesakitan, belum berusia uzur, pada Kamis sore… disemayamkan di rumah kemudian Jumatan di mesjid, barulah ke pemakaman Tanah Kusir…. Dalam seluruh kesedihan kami sekeluarga besar pada saat itu, kami masih bersyukur apa yang ayah inginkan sangat dituruti dan didengar Tuhan..
Selasa pagi ini, hati saya terenyuh memandang dua jenazah berjejer di ruang tamu rumah orang tua teman saya. Ayahnya meninggal kemari pukul 4 sore tanpa sakit parah yang berarti. Seluruh kerabat melayat, dan menyalami duka cita kepada istrinya yang duduk terpekur di samping suaminya almarhum. Jam 11 malam, di hari yang sama, ibu teman saya di kamarnya tertidur pulas… selamanya….. Ia pun wafat mengikuti suaminya. Tentu bisa dibayangkan kehebohan di rumah itu dan kerabatnya yang lain. Yang menerima berita lewat sms pun seakan tak percaya karena baru saja menyalami sang istri yang berduka…, kini ia pun tiada.. Beberapa kerabatnya tadi berbisik kepada saya, konon sang ibu semasa hidup selalu berkata kepada keluarganya, kalau suaminya meninggal, sebaiknya ia ikut saja dan tidak mau lama-lama ditinggal pergi. Dan semua terjadi kemarin. Tuhan telah membuktikan kebesaranNYA. Siang ini, sepasang suami istri usia 70 an dan 80 an itu terbaring penuh kasih, di antara pepohonan dan angin semilir , bersebelahan di pemakaman Tanah Kusir…. betul-betul sehidup semati…..
Saya termenung. Termangu sedari tadi. Tuhan memang ada di mana-mana, bahkan ada di dalam hati kita. Tak ada ketulian dan kebutaan dalam kamus NYA… karena DIA tahu betul apa isi hati kita yang sebenar-benarnya. Jenis apa qolbu kita, niatan apa yang acapkali kita simpan maupun kita cetuskan.., dan apa makna doa kita sehari-hari kepadaNYA….. Ya Allah Ya Tuhanku, Engkau maha besar sebesar-besarnya. Engkau maha mendengar semendengar-dengarnya… Kian terasa apalah aku dibanding kemuliaanMU .. aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan aku hanya sekedar makhluk tak berdaya di mata MU….
Oleh Linda Kompasiana- 10 Maret 2009 -
Jangan main-main meminta kepada Tuhan. Yang dikabulkan, banyak. Barangkali, yang tidak ingin diinginkan pun , bisa jadi diberikan sebaliknya. Contoh, seorang wanita selalu berkata dalam hatinya, “Amit-amit saya berjodoh dengan lelaki yang bicaranya medok Jawa, hobi memakai sepatu berwarna putih, dan berkumis. Jangan sampai terjadi”. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Wanita itu , sampai kini sudah memiliki tiga anak, dengan suami yang ‘ketiga unsur itu’ ada semua. Sang suami berkumis, berasal dari Solo yang aksen Jawanya masih kental, dan .. hobi memakai sepatu putih sampai sekarang sudah menjadi kakek-kakek! Nah lho!
Di pinggir pantai Kuta, seorang wanita muda menangis. Air matanya tak henti mengikuti pecahnya ombak yang berulang-ulang. Lalu ia bergumam sendiri, “Tuhan , aku tahu betul aku cinta sekali kepada orang itu. Meski agamanya berbeda dengan agamaku, dan aku menyadari hal ini tidak boleh terjadi…, tapi aku tak kuasa. Kalau memang dia jodohku, lancarkanlah. Kalau tidak, kasih dong Tuhan jalan yang baik. Aku harus bagaimana?” Dua hari setelah itu, wanita muda ini kembali ke Jakarta. Malamnya, rekan kerja ibunya datang ke rumah membawa adiknya, seorang pemuda keren. Sebulan kemudian si pemuda langsung melamarnya…, dan beberapa bulan kemudian mereka menikah. Selamat tinggal pemuda yang lain agama itu…..
Ayah saya, seorang pekerja keras, bersahaja, lurus, dan anti korupsi meski kadang kesempatan sangat menghadangnya di depan mata. Kalau di lingkungan pertemanannya ada yang sakit keras, ia selalu nyeletuk kepada saya, ” Ayah minta sama Tuhan , nggak mau mati pakai sakit. Betul-betul nggak mau. Ayah nggak mau merepotkan keluarga dan menguras biaya. Enak ya orang yang meninggal hari Jumat, jadi bisa disembahyangkan di mesjid sama-sama orang Jumatan”. Ketika usianya menjelang 64 tahun , usai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan bermaaf-maafan di hari Idul Fitri, wafatlah dia. Dua jam sebelumnya ayah masih memangku anak saya yang masih balita. Sesudah itu ayah pergi ke tempat pijat langganannya yang dikelola suami istri di kawasan Kebayoran. Dia bilang sedang kurang enak badan. Setelah usai pijat, ia menyetir mobilnya sendiri ke Rumah Sakit Birah di Kebayoran Baru. Minta diperiksa oleh dokter, sembari menyerahkan kartu namanya berikut nomor terlefon rumah kepada suster. Meurut suster, ayah saya mengatakan begini, “Suster, kalau ada apa-apa, tolong saja telefon ke rumah saya, hubungi anak-anak saya..” Setelah itu, bablas…., wafatlah ia dengan sebegitu tenang, ringkas, serta sangat tidak merepotkan orang. Bayangkan , ia mengantarkan dirinya sendiri ke Rumah Sakit untuk menghembuskan nafasnya…. Betul-betul keinginannya dijabah Allah. Meninggal tanpa menderita kesakitan, belum berusia uzur, pada Kamis sore… disemayamkan di rumah kemudian Jumatan di mesjid, barulah ke pemakaman Tanah Kusir…. Dalam seluruh kesedihan kami sekeluarga besar pada saat itu, kami masih bersyukur apa yang ayah inginkan sangat dituruti dan didengar Tuhan..
Selasa pagi ini, hati saya terenyuh memandang dua jenazah berjejer di ruang tamu rumah orang tua teman saya. Ayahnya meninggal kemari pukul 4 sore tanpa sakit parah yang berarti. Seluruh kerabat melayat, dan menyalami duka cita kepada istrinya yang duduk terpekur di samping suaminya almarhum. Jam 11 malam, di hari yang sama, ibu teman saya di kamarnya tertidur pulas… selamanya….. Ia pun wafat mengikuti suaminya. Tentu bisa dibayangkan kehebohan di rumah itu dan kerabatnya yang lain. Yang menerima berita lewat sms pun seakan tak percaya karena baru saja menyalami sang istri yang berduka…, kini ia pun tiada.. Beberapa kerabatnya tadi berbisik kepada saya, konon sang ibu semasa hidup selalu berkata kepada keluarganya, kalau suaminya meninggal, sebaiknya ia ikut saja dan tidak mau lama-lama ditinggal pergi. Dan semua terjadi kemarin. Tuhan telah membuktikan kebesaranNYA. Siang ini, sepasang suami istri usia 70 an dan 80 an itu terbaring penuh kasih, di antara pepohonan dan angin semilir , bersebelahan di pemakaman Tanah Kusir…. betul-betul sehidup semati…..
Saya termenung. Termangu sedari tadi. Tuhan memang ada di mana-mana, bahkan ada di dalam hati kita. Tak ada ketulian dan kebutaan dalam kamus NYA… karena DIA tahu betul apa isi hati kita yang sebenar-benarnya. Jenis apa qolbu kita, niatan apa yang acapkali kita simpan maupun kita cetuskan.., dan apa makna doa kita sehari-hari kepadaNYA….. Ya Allah Ya Tuhanku, Engkau maha besar sebesar-besarnya. Engkau maha mendengar semendengar-dengarnya… Kian terasa apalah aku dibanding kemuliaanMU .. aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan aku hanya sekedar makhluk tak berdaya di mata MU….
Thursday, February 5, 2009
Coklat Alabuga


Chocolate fountain



Coklat dan aneka buah dan kue

Minyak Canola



Coklat dan aneka buah dan kue

Minyak Canola
Ingredients:
2 (12 ounce) paket coklat chip
3 unsweetened cokalt (coklat yg belum tercampur gula ato milk)
3/4 cup minyak canola
Cara memasak
2 (12 ounce) paket coklat chip
3 unsweetened cokalt (coklat yg belum tercampur gula ato milk)
3/4 cup minyak canola
Cara memasak
1- Tempatkan coklat dan minyak pada mangkok gelas
2- Di microwave pada suhu menengah. suhu tinggi kira2 2 menit. Diaduk kemusian dimicrowave ladi di aduk lagi sampai coklat mencair lembut. Yakinkan tidak ada coklat yang belum mencair. pieces.
3- Stir in the Kahlua if desired.
4- Taruh coklat di mangkok pada dasar unit (coklat fountain).
5- Biarkan sampai 2 menit. matikan selama 30 detik untuk mengurangi udara.
6- Jika coklat tidak mengalir lancar tambahkan lagi 1/8 cup minyak di magkok.
7- Hidangkan dengan buah atau kue.
2- Di microwave pada suhu menengah. suhu tinggi kira2 2 menit. Diaduk kemusian dimicrowave ladi di aduk lagi sampai coklat mencair lembut. Yakinkan tidak ada coklat yang belum mencair. pieces.
3- Stir in the Kahlua if desired.
4- Taruh coklat di mangkok pada dasar unit (coklat fountain).
5- Biarkan sampai 2 menit. matikan selama 30 detik untuk mengurangi udara.
6- Jika coklat tidak mengalir lancar tambahkan lagi 1/8 cup minyak di magkok.
7- Hidangkan dengan buah atau kue.
Wednesday, February 4, 2009
Cassava Cake
Ingredients:
2 packages grated cassava
1 can coconut milk
1 bottle macapuno strips
2 eggs
2 tsp vanilla
1 can condensed milk
Mix all 5 ingredients and 2/3 of condensed milk.
Bake at 350 degrees 45 min to 1 hour
Spread rest of condensed milk on top, cook for another 5 minutes
2 packages grated cassava
1 can coconut milk
1 bottle macapuno strips
2 eggs
2 tsp vanilla
1 can condensed milk
Mix all 5 ingredients and 2/3 of condensed milk.
Bake at 350 degrees 45 min to 1 hour
Spread rest of condensed milk on top, cook for another 5 minutes
Ongol ongol
ONGOL - ONGOL
Bahan :
500 grm singkong,
parut halus250 ml
santan kental3 sdm gula pasir
1/2 sdt vanili
1 bungkus agar-agar warna putih
1 sdt garam
Pewarna makanan sesuai selera
Taburan :
200 grm kelapa parut
Garam
Daun pandan
Cara membuat :
Campurkan semua bahan ongol-ongol lalu bagi menjadi 2 ato tiga bagian
Beri pewarna makanan, lalu tuangkan adonan dalam loyang yang telah dilapisi plastik dan diolesi minyak.
Kukus selama 15 menit, lalu masukan adonan warna berikutnya.
Setelah smua masuk, kukus lagi selama 30 menit.
Dinginkan lalu potong-potong
Kukus kepala parut, garam dan daun pandan.
Taburkan diatas potongan ongol-ongol
Monday, February 2, 2009
Hemmm, ......... Sepertinya Ini Peluang Bisnis..!!!
Hemmmm……, Sepertinya Ini Peluang Bisnis..!!!”
SEPERTI biasanya setiap akhir pekan terjelang saya selalu berusaha untuk menyempatkan diri berbagi waktu dengan keluarga dirumah. Ya, sekedar melepaskan penat dari pekerjaan yang selama 5 hari berturut-turut telah membuat pikiran dan fisik ini terasa lelah. Ibarat hand phone, setiap “weekend” saya selalu men-charge diri saya agar siap untuk menghadapi segala pekerjaan yang telah menanti di minggu yang akan datang. Berhubung, minggu ini (31/01/09) bertepatan dengan akhir bulan, maka jadwal belanja bulanan, kami jadikan sebagai prioritas utama. Biasanya, kami langsung ketempat tujuan, tapi karena saat berangkat menjelang makan siang, maka kami berencana untuk makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya berbelanja.
Setelah menghabiskan waktu kurang-lebih hampir satu jam untuk makan siang disebuah restoran dengan slogan-nya yang sudah mulai populer, yaitu: “Mutu Bintang 5-Harga Kali 5 (Five Star Quality-Street Hawker Price)” dengan harga yang cukup ekonomis, namun tetap membangkitkan selera, mulailah kami melakukan tujuan inti, yaitu berbelanja bulanan yang juga memakan waktu hingga dua-tiga jam.
Selepas berbelanja, sambil berjalan membawa belanjaan dan kereta bayi, tempat anak kami tertidur dengan lelapnya, kami melihat sebuah counter cokelat yang cukup menarik perhatian, bernama “Chocolate Fountain”. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan membeli beberapa buah untuk sekedar mencobanya.
Karena baru pertama kali melihat counter cokelat yang seperti itu, pikiran saya jauh menerawang kedepan hingga terbersit sebuah pemikiran: “Nah, sepertinya ini peluang bisnis baru, kelihatannya cukup menarik, cari informasi ach…?…” ujar saya dalam hati.
SY : “Mas, sepertinya saya baru lihat counter cokelat seperti ini? Ini yang pertama ya?…”
PC : “Oh, iya mas counter cokelat ini memang baru, tapi ini bukan yang pertama kok, kami ada juga di sebuah Mal di kawasan Kelapa Gading”.
SY : “Oh gitu ya, soalnya sepertinya saya baru lihat dech!”
(Sambil photo-photo proses pembuatannya….)
SY : “Ngomong-ngomong, counter cokelat ini memberikan kesempatan franchise buat orang lain gak ya?”
PC : “Waduh, kebetulan belum ada tuh mas!”
SY : “Mas, yang punya counter cokelat ini ya?”
PC : “Bukan, yang punya counter ini kakak saya!”
SY : “Oh gitu ya, boleh juga nech bisnisnya, satu hari bisaterjual berapa banyak mas?”
PC : “Kalo hari biasa, paling tidak bisa mencapai 250 tusuk, tapi kalo weekend kayak gini bisa dua kali lipat-nya!”
SY : “Wah, lumayan juga ya, kalau satu hari bisa terjual 250 tusuk dengan harga per tusuk-nya Rp. 5.000, itu berarti ia akan mengantongi penghasilan Rp. 1.250.000/ hari”, gumam saya dalam hati.
(Mulai photo-photo lebih serius lagi, termasuk alat-alat counter cokelat-nya……)
SY : “Kalau biaya sewa counter-nya berapa duit mas?”
PC : “Oh, kalo biaya sewanya 4 juta/ bulan mas.”
SY : “Hemm…. mahal juga, padahal ruangannya sangat sempit ya?”
PC : “Ya, lumayan dech mas, luasnya sekitar 2×2 meter persegi”
SY : “Ach, kalo satu hari bisa mengantongi penghasilan sebesar Rp. 1.250.000, sewa ruangan 4 juta/ bulan sich gak ada masalah”, ujar saya lagi dalam hati.
(Berbisik-bisik dengan istri saya, sambil memberikan informasi tentang peluang bisnis cokelat yang kelihatannya cukup prospektif tersebut).
SY : “Oh, iya mas, kalo beli alat-alat cokelatnya ini dimana ya?”
PC : “Wah, kalo itu saya kurang paham mas, sepertinya kakak saya beli dari Taiwan!”..
SY : “Oh gitu, jauh juga ya, emang disini gak ada yang jual apa?”…(sambil kebingungan).
PC : “Gak tau juga dech mas.”
SY : “Kalau harganya kira-kira berapa duit ya?”
PC : “Katanya sich sekitar Rp. 16 juta-an/ unit-nya”….
SY : “haaaa…???, mahal amat mas!” (agak kaget dan sedikit tak percaya juga dengernya)
PC : tidak menjawab, sambil seyum-senyum sendiri J
SY : “Waduh, masa sich semahal itu?..kalau per unit-nya Rp. 16 juta-an, karena dia pakai 2 unit berarti untuk modal alatnya saja sudah Rp. 32 juta, belum lagi kulkas kecil dan rak-nya, paling tidak investasi awalnya bisa mencapai Rp. 40 juta-an donk!…., tapi kalo saya hitung-hitung lagi, dengan penghasilan Rp. 1,2 juta-an/ hari, atau sekitar Rp. 36 juta-an/ bulan, maka alat-alat semahal itu jadi tidak begitu mahal, karena jika berjalan sesuai estimasi, maka dalam waktu kurang dari dua bulan, investasi kita pasti sudah break event point atau balik modal nech”, lagi-lagi saya bergumam dalam hati.
PC : “Ini mas, cokelatnya sudah selesai!”
SY : “Aduh, mas ini membuyarkan lamunan saya saja” ujar saya menggerutu dalam hati. “oh iya, jadi berapa nech mas semuanya?”
PC : “Semuanya 3 tusuk, totalnya jadi Rp. 15.000 mas!”
SY : “Ini uangnya mas, makasih ya?, ngomong-ngomong saya bisa minta nomor hand phone kakaknya gak ya?”
PC : “Waduh, gimana yach???…..” (terkesan agak ragu dan mulai kebingungan….)
SY : “Oh, ya udah gak papa kok mas, lain kali aja dech, makasih ya! ”…….(sambil berlalu membawa kereta belanjaan…..)
Seingat saya, kurang lebih demikian percakapan yang terjadi antara saya dengan penjaga counter “Chocolate Fountain” tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, sambil menikmati kelezatan buah-buahan yang dipotong dan ditusukan menyerupai sate dengan lapisan cokelat diluarnya tersebut, saya terus berpikir dan bergumam dalam hati “hemmm…. enak juga ya cokelat-nya, sepertinya ini peluang bisnis baru, gimana ya cara saya untuk bisa merealisasikannya menjadi kenyataan…!!!”.
Di jaman yang sedang krisis seperti saat ini, rasanya sebuah keinginan setiap orang (termasuk saya) untuk mempersiapkan diri dari segala macam bentuk resiko pekerjaan, dengan jalan mencari penghasilan tambahan lainnya melalui bisnis kecil-kecilan.
Saya jadi teringat perkataan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Elka Pangestu, saat menghadiri Information and Communication Technology (ICT) Award pada tanggal 08 Agustus 2008 lalu di Jakarta Convention Centre (JCC), terkait dengan tugas yang diberikan oleh mas Budi Putra untuk meliput moment tersebut dalam kapasitas saya sebagai jurnalis pada http://www.asiablogging.com/, khususnya mengenai tema “Ekonomi Kreatif”.
Dalam pidatonya, beliau menyinggung besarnya peranan ICT dalam membangun perekonomian bangsa saat ini, termasuk didalamya adalah komitmen pemerintah untuk terus-menerus mempopulerkan “Ekonomi Kreatif” kepada masyarakat, terutama bagi sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Jika saja rencana saya ini bisa terealisasi-kan dengan baik, maka paling tidak saya juga akan menjadi bagian dan turut berpatisipasi dalam mengembangkan “Ekonomi Kreatif” yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Ya, paling tidak saat ini saya sedang berusaha untuk menterjemahkan apa yang dimaksudkan dengan “Ekonomi Kreatif” oleh pemerintah
dalam bentuk ide kreatif usaha cokelat.
Sepertinya, memang sudah saatnya saya mulai berpikir dan berani mengambil sebuah keputusan untuk menciptakan sebuah bisnis yang bersifat jangka panjang. Siapa tahu saja, nanti malah bisa menjadi penghasilan utama saya, ketimbang hanya menjadi sebagai seorang karyawan seperti saat ini.
Hemmmm….., saat ini saya benar-benar sangat tertarik dengan bisnis cokelat seperti itu, gimana ya cara efektif untuk memulai dan merealisasikannya..!!!
Bagi para blogger dan pembaca setia Kompasiana ini, barangkali saja sudah pernah ada yang mengetahui untung-ruginya menjalankan bisnis cokelat seperti itu, mohon sekedar sharing pendapat-nya donk???…….(jangan khawatir, saya gak minta sharing pendapat-an kok??..) J
Yulyanto (for-Citizen Journalism Campaign) …. J
SEPERTI biasanya setiap akhir pekan terjelang saya selalu berusaha untuk menyempatkan diri berbagi waktu dengan keluarga dirumah. Ya, sekedar melepaskan penat dari pekerjaan yang selama 5 hari berturut-turut telah membuat pikiran dan fisik ini terasa lelah. Ibarat hand phone, setiap “weekend” saya selalu men-charge diri saya agar siap untuk menghadapi segala pekerjaan yang telah menanti di minggu yang akan datang. Mal Bekasi Square dekat pintu tol masuk Bekasi Barat menjadi pilihan kami untuk makan siang sekaligus berbelanja (kebetulan disana juga ada pusat perbelanjaan, tempat dimana kami biasa berbelanja) untuk kebutuhan keluarga kami selama satu bulan kedepan.
Setelah menghabiskan waktu kurang-lebih hampir satu jam untuk makan siang disebuah restoran dengan slogan-nya yang sudah mulai populer, yaitu: “Mutu Bintang 5-Harga Kali 5 (Five Star Quality-Street Hawker Price)” dengan harga yang cukup ekonomis, namun tetap membangkitkan selera, mulailah kami melakukan tujuan inti, yaitu berbelanja bulanan yang juga memakan waktu hingga dua-tiga jam.
Selepas berbelanja, sambil berjalan membawa belanjaan dan kereta bayi, tempat anak kami tertidur dengan lelapnya, kami melihat sebuah counter cokelat yang cukup menarik perhatian, bernama “Chocolate Fountain”. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan membeli beberapa buah untuk sekedar mencobanya.Karena baru pertama kali melihat counter cokelat yang seperti itu, pikiran saya jauh menerawang kedepan hingga terbersit sebuah pemikiran: “Nah, sepertinya ini peluang bisnis baru, kelihatannya cukup menarik, cari informasi ach…?…” ujar saya dalam hati.
Dengan penuh semangat, akhirnya saya (SY) mulai kasak-kusuk mencari informasi kepada mas Penjaga Counter (PC) tersebut, kurang lebih begini percakapannya:
SY : “Mas, sepertinya saya baru lihat counter cokelat seperti ini? Ini yang pertama ya?…”
PC : “Oh, iya mas counter cokelat ini memang baru, tapi ini bukan yang pertama kok, kami ada juga di sebuah Mal di kawasan Kelapa Gading”.
SY : “Oh gitu ya, soalnya sepertinya saya baru lihat dech!”
(Sambil photo-photo proses pembuatannya….)
SY : “Ngomong-ngomong, counter cokelat ini memberikan kesempatan franchise buat orang lain gak ya?”
PC : “Waduh, kebetulan belum ada tuh mas!”
SY : “Mas, yang punya counter cokelat ini ya?”
PC : “Bukan, yang punya counter ini kakak saya!”

SY : “Oh gitu ya, boleh juga nech bisnisnya, satu hari bisaterjual berapa banyak mas?”
PC : “Kalo hari biasa, paling tidak bisa mencapai 250 tusuk, tapi kalo weekend kayak gini bisa dua kali lipat-nya!”
SY : “Wah, lumayan juga ya, kalau satu hari bisa terjual 250 tusuk dengan harga per tusuk-nya Rp. 5.000, itu berarti ia akan mengantongi penghasilan Rp. 1.250.000/ hari”, gumam saya dalam hati.
(Mulai photo-photo lebih serius lagi, termasuk alat-alat counter cokelat-nya……)
SY : “Kalau biaya sewa counter-nya berapa duit mas?”
PC : “Oh, kalo biaya sewanya 4 juta/ bulan mas.”
SY : “Hemm…. mahal juga, padahal ruangannya sangat sempit ya?”
PC : “Ya, lumayan dech mas, luasnya sekitar 2×2 meter persegi”
SY : “Ach, kalo satu hari bisa mengantongi penghasilan sebesar Rp. 1.250.000, sewa ruangan 4 juta/ bulan sich gak ada masalah”, ujar saya lagi dalam hati.
(Berbisik-bisik dengan istri saya, sambil memberikan informasi tentang peluang bisnis cokelat yang kelihatannya cukup prospektif tersebut).
SY : “Oh, iya mas, kalo beli alat-alat cokelatnya ini dimana ya?”
PC : “Wah, kalo itu saya kurang paham mas, sepertinya kakak saya beli dari Taiwan!”..
SY : “Oh gitu, jauh juga ya, emang disini gak ada yang jual apa?”…(sambil kebingungan).
PC : “Gak tau juga dech mas.”
SY : “Kalau harganya kira-kira berapa duit ya?”
PC : “Katanya sich sekitar Rp. 16 juta-an/ unit-nya”….
SY : “haaaa…???, mahal amat mas!” (agak kaget dan sedikit tak percaya juga dengernya)
PC : tidak menjawab, sambil seyum-senyum sendiri J
SY : “Waduh, masa sich semahal itu?..kalau per unit-nya Rp. 16 juta-an, karena dia pakai 2 unit berarti untuk modal alatnya saja sudah Rp. 32 juta, belum lagi kulkas kecil dan rak-nya, paling tidak investasi awalnya bisa mencapai Rp. 40 juta-an donk!…., tapi kalo saya hitung-hitung lagi, dengan penghasilan Rp. 1,2 juta-an/ hari, atau sekitar Rp. 36 juta-an/ bulan, maka alat-alat semahal itu jadi tidak begitu mahal, karena jika berjalan sesuai estimasi, maka dalam waktu kurang dari dua bulan, investasi kita pasti sudah break event point atau balik modal nech”, lagi-lagi saya bergumam dalam hati.
PC : “Ini mas, cokelatnya sudah selesai!”
SY : “Aduh, mas ini membuyarkan lamunan saya saja” ujar saya menggerutu dalam hati. “oh iya, jadi berapa nech mas semuanya?”
PC : “Semuanya 3 tusuk, totalnya jadi Rp. 15.000 mas!”
SY : “Ini uangnya mas, makasih ya?, ngomong-ngomong saya bisa minta nomor hand phone kakaknya gak ya?”
PC : “Waduh, gimana yach???…..” (terkesan agak ragu dan mulai kebingungan….)
SY : “Oh, ya udah gak papa kok mas, lain kali aja dech, makasih ya! ”…….(sambil berlalu membawa kereta belanjaan…..)
Seingat saya, kurang lebih demikian percakapan yang terjadi antara saya dengan penjaga counter “Chocolate Fountain” tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, sambil menikmati kelezatan buah-buahan yang dipotong dan ditusukan menyerupai sate dengan lapisan cokelat diluarnya tersebut, saya terus berpikir dan bergumam dalam hati “hemmm…. enak juga ya cokelat-nya, sepertinya ini peluang bisnis baru, gimana ya cara saya untuk bisa merealisasikannya menjadi kenyataan…!!!”.
Di jaman yang sedang krisis seperti saat ini, rasanya sebuah keinginan setiap orang (termasuk saya) untuk mempersiapkan diri dari segala macam bentuk resiko pekerjaan, dengan jalan mencari penghasilan tambahan lainnya melalui bisnis kecil-kecilan.
Saya jadi teringat perkataan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Elka Pangestu, saat menghadiri Information and Communication Technology (ICT) Award pada tanggal 08 Agustus 2008 lalu di Jakarta Convention Centre (JCC), terkait dengan tugas yang diberikan oleh mas Budi Putra untuk meliput moment tersebut dalam kapasitas saya sebagai jurnalis pada http://www.asiablogging.com/, khususnya mengenai tema “Ekonomi Kreatif”.
Dalam pidatonya, beliau menyinggung besarnya peranan ICT dalam membangun perekonomian bangsa saat ini, termasuk didalamya adalah komitmen pemerintah untuk terus-menerus mempopulerkan “Ekonomi Kreatif” kepada masyarakat, terutama bagi sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Jika saja rencana saya ini bisa terealisasi-kan dengan baik, maka paling tidak saya juga akan menjadi bagian dan turut berpatisipasi dalam mengembangkan “Ekonomi Kreatif” yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Ya, paling tidak saat ini saya sedang berusaha untuk menterjemahkan apa yang dimaksudkan dengan “Ekonomi Kreatif” oleh pemerintah
dalam bentuk ide kreatif usaha cokelat.Sepertinya, memang sudah saatnya saya mulai berpikir dan berani mengambil sebuah keputusan untuk menciptakan sebuah bisnis yang bersifat jangka panjang. Siapa tahu saja, nanti malah bisa menjadi penghasilan utama saya, ketimbang hanya menjadi sebagai seorang karyawan seperti saat ini.
Hemmmm….., saat ini saya benar-benar sangat tertarik dengan bisnis cokelat seperti itu, gimana ya cara efektif untuk memulai dan merealisasikannya..!!!
Bagi para blogger dan pembaca setia Kompasiana ini, barangkali saja sudah pernah ada yang mengetahui untung-ruginya menjalankan bisnis cokelat seperti itu, mohon sekedar sharing pendapat-nya donk???…….(jangan khawatir, saya gak minta sharing pendapat-an kok??..) J
Salam blogger,
Yulyanto (for-Citizen Journalism Campaign) …. J
Subscribe to:
Posts (Atom)


